....
Kuliner Melihat Produksi Ina Cookies yang "Mendunia"

Melihat Produksi Ina Cookies yang "Mendunia"

Melihat Produksi Ina Cookies yang
Para pekerja sedang membuat kue Ina Cookies. Foto : Fajar

Praktis, menarik dalam kemasan ditambah harganya yang ekonomis menjadikan kue kering ini langsung "mendunia".  Brand kue kering Ina Cookies memang sudah tidak asing lagi bagi keluarga. 

Lebih dari itu, ternyata Ina Cookies adalah salah satu brand dari PT Bonli Cipta Sejahtera (BCS). Ada tiga kekuatan yang tergabung dari brand yang diusung oleh BCS pada 2 Februari 2012, Ina Cookies, J&C Cookies, dan Ladifa Cookies.

Bisnis rumahan yang dirintis dari keluarga besar sejak 18 tahun lalu langsung meroket setelah dikelola dibawah bendera PT Bonli Cipta Sejahtera. Managemen  membagi tugas dimasing-masing perwakilan melalui devisi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Struktur manajemen BCS yang dibentuk secara otomatis sudah tersistem bahwa produksi makanan ringan yang dihasilkan oleh BCS Cookies adalah halal. BCS Cookies dalam produksinya juga menerapkan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) sebagai sistem keamanan pangan yang telah diakui secara internasional. 

Berlokasi di Bojong Koneng Atas No.8-A, Bandung, bisnis rumahan ini hasilnya memang luar biasa. Bahkan turut meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. 

Hampir  90% karyawan bertempat tinggal di radius satu kilometer dari pabrik BCS. Kesejahteraan masyarakat Bojong Koneng pun turut meningkat, akses jalan menjadi baik, geliat ekonomi Bojong Koneng semakin membaik bersamaan dengan Corporate Social Responsibilities (CSR) yang dilakukan BCS Cookies tiap tahunnya.

BCS Cookies Specialist, sebutan untuk PT Bonli Cipta Sejahtera, kini memiliki 1000 karyawan produksi yang menghasilkan 1100 lusin kue kering per hari. Dengan outlet yang tersebar di Bandung dan Jakarta serta dukungan sekitar 1200 distributor dan agen di seluruh Indonesia, BCS Cookies Specialist ingin terus berkembang menjadi perusahaan kue kering nomor satu di Indonesia. 

Kue kering yang awalnya hanya terdiri atas tiga brand, kini berjumlah lima brand. Hal ini bertujuan untuk menyasar semua segmen pasar. La Difa Cookies untuk pasar premium, Ina Cookies dan J&C Cookies untuk pasar menengah, dan Kersen Cookies serta Valya Cookies untuk pasar low-end.

Mochamad Farhan, Marketing Communication Manager PT Bonli Cipta Sejahtera, mengemukakan, andalan di La Difa ada Mini Cronat, di Ina Cookies ada Kue Opor Ayam, dan Arble Crush bikinan J&C yang lebih mengarah kepada segmen anak muda yang dinamis. 

Dia mengatakan, selain tiga varian terbaru tersebut, BCS juga menyiapkan 130 jenis kue kering sebagai produk dari lima brand, sedangkan predikat best seller dari tahun ke tahun tetap dipegang oleh kue-kue umum, seperti nastar, castangle, dan kue salju, yang memang sudah menjadi langganan konsumen sehari-hari.

Menurut Farhan, lebih dari dari satu juta toples dari berbagai merek dan varian disiapkan BSC untuk memenuhi konsumen di bulan Ramadan serta Idul Fitri tahun ini. Jumlah tersebut ditargetkan untuk menutupi target penjualan 1,5 juta toples selama satu tahun penuh. 

Momen Lebaran dalam operasional produksi satu tahun, 90% penjualan dalam waktu 5 bulan sebelum memasuki Lebaran sudah dilakukan. Karena permintaan agen diseluruh Indonesia dari tahun ketahun selalu meningkat. "Di Lebaran tahun 2014 ini produksi meningkat sebesar 37 persen produksi kue dari tahun sebelumnya. 

Di samping itu, permintaan kue kering dari 1.400 reseller di kota dan kabupaten di 20 provinsi mulai dipenuhi sebelum Lebaran tiba. Begitu juga dengan permintaan agen yang berada di Malaysia, Brunei, Singapura, Canada dan Perancis meskipun tidak mengalami lonjakan permintaan, tapi secara kontinyu sudah terkirim. (Fajar/Adv).