....
Heritage White Tea Bandung Hingga Cerita Soekarno

White Tea Bandung Hingga Cerita Soekarno

White Tea Bandung Hingga Cerita Soekarno
Pengunjung menikmati tea dalam "Bandung Tea Festival" di halaman Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, belum lama ini.

ADA yang tertinggal dan rasa rindu mencicipi kembali ragam tea di Festival Tea Bandung. Bagi penggemar tea mungkin lebih dekat dengan tea pada umumnya. Tapi bagaimana dengan White Tea. Ini mungkin kendengarannya agak asing.

Ingin tau? White tea ini ternyata dibuat dari pucuk teh yang cuma dua lembar saja.  Pucuk teh yang disebut peko ini kemudian diolah melalui proses oksidasi sehingga white tea ini memiliki anti oksidan yang tinggi.

Dilihat dari penampakannya, white tea ini berwarna keperakan menyerupai jarum. Wajar saja kalau teh jenis ini juga disebut sebagai silver needle white tea. White tea ini memiliki rasa yang lembut dan menyegarkan.

Steamed Green Tea atau disebut juga teh Jepang juga menarik. Daun teh pucuk dikukus dengan cara dan derajat panas tertentu sehingga menghilangkan rasa pahit dan tetap mengeluarkan aroma teh yang lembut dan harum.

Yang menarik 60  persen teh jenis ini yang beredar dan terkenal di Jepang, ternyata didatangkan dari Garut. Walaah.

Yang jelas Festival Tea yang berlangsung baru-baru ini kembali mengingatkan pada posisi Bandung yang pernah menjadi pusat teh dan melahirkan banyak pemilik kebun teh skala internasional. Bandung memang sangat lekat dengan salah satu komoditas ini.

Warga Bandung sangat akrab dengan kata yang akrab didengar  Dago Tihes yang sebetulnya berasal dari Kata Tea Huiss.

Dago Tea Huiss  pada jaman kolonial Belanda merupakan salah satu tempat yang memiliki panorama paling indah di kota Bandung.

Di sini Anda dapat menikmati pemandangan lembah Kota Bandung yang indah dan mempesona. Pada malam hari, Anda dapat melihat kerlap-kerlip lampu kota yang indah dari dataran tinggi Dago.

Saat itu, Bandung memang dikelilingi oleh kebun-kebun teh dan para Preanger Planters  (pemilik perkebunan teh di Priangan) berhasil meraup kekayaan yang luar biasa dari komoditas teh.

Di Tjembooliyut (Ciumbuleuit) misalnya, dulu daerah itu merupakan perkebunan teh yang dimiliki Mr.Brumsteede. Beberapa bekasnya bisa dilihat di Gedung Concordia Sociteit.

Sebagian besar teh dari Jawa khususnya Priangan dikirimkan ke Inggris. Orang-orang Inggris memang mengkonsumsi lebih dari setengah produksi teh dari seluruh dunia.

Dikutip dari situs Aleutian, Para Preangerplanters  yang kekayaannya luar biasa ini nantinya akan memberi andil besar dalam pembangunan kota Bandung khususnya.

Mereka juga dikenal memiliki kepekaan sosial yang cukup tinggi dengan orang Pribumi mengingat keseharian mereka yang selalu berada di tengah perkebunan teh dan selalu berhubungan dengan masyarakat setempat.

Dari keluarga “Raja Teh Priangan” sempat muncul beberapa nama seperti Karel Frederik Holle, Kerkhoven dan Bosscha yang memiliki perhatian besar terhadap kehidupan orang Pribumi.

Tanpa andil Kerkhoven dan Bosscha, mungkin Technische Hogeschool  (ITB) tidak akan pernah berdiri.

Sedangkan dari kampus inilah lahir seorang  tokoh bernama Soekarno yang menjadi penggerak utama kemerdekaan.

Penulis : Fajr M

Foto      : Ant